Profil Penyerapan Tenaga Kerja Sub Sektor Hotel dan Restoran di Kota Denpasar
Submitted by superadmin on Wed, 02/25/2009 - 14:48
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Todaro (2000;20) mengungkapkan bahwa pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi nasional disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan serta pengentasan kemiskinan atau perubahan total suatu masyarakat/penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan menuju kondisi kehidupan yang lebih baik. Lebih lanjut dikatakan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi dapat terdiri dari kenaikan kualitas dan jumlah tenaga kerja, penambahan modal melalui tabungan dan investasi serta adanya penyempurnaan teknologi.
Menurut Mardiasmo (2002, 46) tujuan utama penyelenggaraan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan pelayanan publik (public service) dan memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yaitu (1) meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, (2) menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah, dan (3) memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Otonomi mengisyaratkan peran masyarakat dalam pembangunan semakin besar baik dalam kegiatan ekonomi maupun control terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerahnya.
Salah satu penggerak pembangunan adalah sektor/industri pariwisata yang dianggap sebagai the smokeless industry yang dapat menciptakan kesejahteraan melalui penyelenggraraan kegiatan ekonomi yang melayani kepentingan wisatawan. Bagi Indonesia pariwisata menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi cukup besar baik perolehan devisa maupun penciptaan kesempatan kerja. Sedangkan bagi Propinsi Bali, sektor pariwisata merupakan tumpuan untuk memperoleh pendapatan asli daerah sebagai salah satu sumber pembangunan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kesempatan kerja.
Pertumbuhan Pariwisata internasional diprediksikan akan terus berlanjut di masa depan. Perjalanan pariwisata, karena sebaran geografisnya, jangkauan ekonominya, jumlah dan mobilitas pelaku perjalanannya, prospek pertumbuhan dan keterkaitannya dengan sektor industri kunci lainnya, memiliki karakteristik penciptaan lapangan pekerjaan yang unik, secara global 1 dari 9 pekerjaan di dunia ditimbulkan/dibangkitkan oleh pariwisata, sedangkan di Indonesia pada tahun 1997, menurut perhitungan World Travel and Tourism Council, diperkirakan 8% lapangan pekerjaan disediakan oleh sektor pariwisata atau artinya 1 dari 12,6 pekerjaan (Tribuwani, 2002).
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah (Arsyad,1999;109).
Kota Denpasar memisahkan diri dari Kabupaten Badung pada 27 Pebruari 1992, merupakan bagian dari Propinsi Bali dengan luas 127,78 Km² atau 2,27% dari luas Pulau Bali, jumlah penduduk menurut sensus penduduk tahun 2000 sebanyak 522.381 jiwa kemudian pada tahun 2001 tercatat 565.635 jiwa, atau meningkat sebesar 8,28%, sampai saat ini masih bertumpu pada sektor/industri pariwisata dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000 rata-rata pertumbuhan penduduk Kota Denpasar sebesar 3,01% (1990-2000). Secara regional penyebab tingginya pertumbuhan penduduk di Kota Denpasar adalah karena Denpasar merupakan Ibu Kota Propinsi dan hampir seluruh kegiatan ekonomi terpusat di Kota. Sementara itu jumlah pendatang lebih besar dari jumlah kelahirannya dimana pada tahun 1999 perubahan penduduk karena kelahiran sebesar 3.375 orang (0,86%) sedangkan jumlah yang datang sebesar 14.773 orang (3,78%).
Gambar1.1
Prosentase Penduduk Usia Kerja di Kota Denpasar
Tahun 1997-2001
Jika diperhatikan gambar 1.1 diatas struktur penduduk Kota Denpasar, bahwa pada tahun 1997 prosentase penduduk yang tergolong usia kerja adalah sebesar 71,89%, pada tahun 1998 sebesar 75,15% dan pada tahun 1999 sebesar 76,17%, tahun 2000 81,22% dan tahun 2001 82,75% yang berarti meningkat rata-rata 2,17% setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja yang besar akan menambah tenaga kerja produktif yang tersedia di Kota Denpasar serta persaingan dalam merebut kesempatan kerja juga akan meningkat.
Sebagai daerah tujuan wisata (DTW), Kota Denpasar dapat memberi peluang bagi penyerapan tenaga kerja khususnya pada sektor pariwisata baik formal maupun informal. Sektor pariwisata mempunyai matarantai kegiatan yang sangat panjang. Hal ini berarti banyak usaha yang dapat digerakkan oleh sektor pariwisata seperti kegiatan biro perjalanan, transportasi, perhotelan, restoran/rumah makan, kesenian dan budaya daerah, industri kerajinan rakyat, pramuwisata (guide), tempat hiburan dan rekreasi, pameran dan olahraga internasional yang diselenggarakan di daerah-daerah, serta kegiatan informal seperti pedagang acung dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Pembangunan ekonomi merupakan pertumbuhan ekonomi yang diiringi oleh perubahan pada distribusi output dan struktur ekonomi, peningkatan kontribusi sektor industri dan jasa serta peningkatan pendidikan dan keterampilan angkatan kerja. Pertumbuhan ekonomi daerah dapat bersumber dari peningkatan modal melalui investasi dan tabungan masyarakat, peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja melalui pertumbuhan angkatan kerja dan peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta adanya penyempurnaan teknologi dalam proses produksi. Peningkatan dari sisi permintaan atas produksi barang dan jasa akan mendorong peningkatan penggunaan input faktor produksi. Salah satu input faktor produksi yang penting adalah tenaga kerja, dengan peningkatan kapasitas produksi dapat mendorong terciptanya kesempatan kerja dan meningkatkan penggunaan tenaga kerja.
Menurut Todaro (2000;116), secara tradisional pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar akan menambah tenaga kerja produktif, sedangkan pertumbuhan yang lebih besar akan memperbesar ukuran pasar domestiknya. Hal ini bisa terjadi apa bila tenaga kerja produktif tersebut dapat terserap pada kesempatan kerja yang tersedia dan akan menjadi masalah apabila pertumbuhan tenaga kerja jauh melebihi kesempatan kerja yang tersedia yaitu terciptanya pengangguran. Dalam pembangunan tenaga kerja dapat memiliki 2 (dua) arti penitng yaitu sebagai subyek pembangunan dimana tenaga kerja sebagai pelaku dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi (input faktor produksi) dan sebagai obyek pembangunan dimana tenaga kerja sebagai unsur yang diprioritaskan untuk peningkatan kualitas hidup (quality of life) yang mencakup peningkatan pendapatan, kesehatan dan pendidikan. Jika pembangunan berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang cepat dan menggunakan modal/investasi dan teknologi yang tinggi maka penggunaan tenaga kerja akan relatif berkurang digantikan oleh mesin, sehingga tenaga kerja dengan kemampuan dan kualitas tertentu dituntut dapat memenuhi kebutuhan dalam proses produksi.
Pembangunan pariwisata diharapkan dapat memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha serta lapangan kerja terutama bagi masyarakat setempat (community-based tourism development), mendorong pembangunan daerah, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa negara serta disisi lain dapat melestarikan alam dan budaya sebagai modal pariwisata serta meningkatkan persahabatan antar bangsa.
Wilayah Kota Denpasar yang ditetapkan sebagai kawasan pariwisata adalah kawasan Sanur (Kecamatan Denpasar Selatan) dengan luas 1.448 Ha atau 11,33% dari luas Kota Denpasar. Kinerja kepariwisataan Kota Denpasar dapat dilihat dari perkembangan fasilitas kepariwisataan dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan baik asing maupun domestik. Berikut perkembangan kepariwisataan di Kota Denpasar periode 1997 – 2001
Tabel 1.2
Jumlah Kamar, Jumlah Wisatawan Yang Menginap, Rata-rata tamu Menginap dan Tingkat Hunian Kamar Hotel di Kota Denpasar Tahun 1997 – 2001
|
No
|
Variabel
|
Tahun
|
Rata-rata
|
||||
|
1997
|
1998
|
1999
|
2000
|
2001”
|
|
||
|
1.
|
Kamar Hotel
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Hotel Berbintang
|
22
(2.914)
|
22
(2.827)
|
22
(2.827)
|
22
(2.939)
|
23
(2.984)
|
1,2%
1,45%
|
|
|
Non Bintang
|
141
(3.485)
|
146
(3.607)
|
157
(3.607)
|
167
(3.191)
|
192
(3.559)
|
8,09%
3,4%
|
|
2.
|
Wisatawan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Asing
|
126.442
|
132.569
|
151.976
|
859.428
|
884.954
|
121,9%
|
|
|
Domestik
|
28.259
|
48.751
|
85.100
|
205.349
|
253.215
|
77,92%
|
|
3.
|
Rata-rata tamu menginap (hari)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Asing
|
3,47
|
3,52
|
4,31
|
3,86
|
*
|
3,04 hari
|
|
|
Domestik
|
2,62
|
2,67
|
2,33
|
2,05
|
*
|
2,42 hari
|
|
4.
|
Tingkat hunian kamar (%)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bintang
|
53,15
|
57,21
|
54,15
|
58,87
|
*
|
55,85%
|
|
|
Non Bintang
|
26,31
|
26,56
|
26,25
|
24,89
|
*
|
26%
|
Sumber : Denpasar Dalam Angka 2000
“ Data Direktori Kepariwisataan Kota Denpasar tahun 2001
* Data belum tersedia
angka dalam kurung adalah jumlah kamar
Melihat tabel 1.1 diatas, nampak bahwa dalam kurun waktu 1997 – 2001 jumlah kamar hotel berbintang mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 1,45%, sedangkan hotel non bintang rata-rata 3,4%. Disisi lain jumlah wisatawan asing maupun domestik yang menginap di Kota Denpasar mengalami pertumbuhan yang tinggi, dimana pada tahun 2000 terjadi lonjakan wisatawan baik asing maupun domestik yang menginap sebesar 465,50% wisatawan asing dan 141,30% untuk wisatawan domestik. Rata-rata tamu menginap dalam kurun waktu 1997-2000 selama 3,04 hari untuk wisatawan asing dan 2,42 hari untuk wisatawan domestik, sedangkan tingkat hunian kamar rata-rata 55,85% untuk hotel berbintang dan 26% untuk non bintang. Rendahnya lama wisatawan menginap disebabkan oleh jarak antar obyek wisata di Bali tidak begitu jauh sehingga dapat ditempuh dalam waktu yang relatif singkat. Sedangkan relatif rendahnya tingkat hunian kamar disebabkan oleh banyaknya jumlah kamar yang tersedia dan tersebar di seluruh Propinsi Bali yang mencapai 31.944 kamar pada tahun 2000 dan meningkat menjadi 32.596 kamar tahun 2001 atau meningkat 2,04%.
Dengan ditetapkannya Sanur sebagai kawasan pariwisata, maka pengembangan sarana kepariwisataan dipusatkan di tempat tersebut, seperti pembangunan hotel, restoran, biro perjalanan, toko souvenir, money changer serta pusat informasi pariwisata. Salah satu industri pariwisata yang dominan dalam aktivitasnya adalah hotel dan restoran, hal ini ditunjukkan oleh tingkat pengeluaran rata-rata per hari wisatawan untuk ke dua jenis usaha tersebut menduduki peringkat tertinggi diantara 8 (delapan) kategori pengeluaran wisatawan, dimana pada tahun 2001 rata-rata pengeluaran wisatawan asing di Bali untuk akomodasi, makan dan minum mencapai 67,04% dari total rata-rata pengeluaran per hari yang mencapai $ 74,38.
Sub sektor hotel dan restoran sebagai salah satu industri pariwisata cukup banyak menyerap tenaga kerja (padat karya) dan memerlukan penguasaan keterampilan khusus baik dalam pelayanan maupun pemasaran, serta memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu rata-rata 25,44% dalam kurun waktu 1997-2001 dan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi bagi Kota Denpasar. Profil penyerapan tenaga kerja sub sektor hotel dan restoran cukup menarik untuk diamati berkaitan dengan beberapa aspek didalamnya yaitu komponen yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja, nilai tambah (produktivitas) setiap tenaga kerja, kepekaan daya serap terhadap tenaga kerja, serta tingkat partisipasi tenaga kerja sub sektor hotel dan restoran terhadap angkatan kerja di Kota Denpasar. Perhatian terhadap aspek-aspek ini bermanfaat dalam rangka perhatian terhadap kebijakan ketenagakerjaan khususnya pembinaan dan pengembangan sub sektor hotel dan restoran sebagai salah satu bidang strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar.
Perkembangan pariwisata mempengaruhi kontribusi sub sektor hotel dan restoran terhadap PDRB dan PAD Kota Denpasar. Dari segi kesempatan kerja hal tersebut juga mempengaruhi produktivitas setiap tenaga kerja, komponen yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja, daya serap terhadap tenaga kerja, serta tingkat partisipasi tenaga kerja pada sub sektor hotel dan restoran di Kota Denpasar. Berdasarkan uraian tersebut yang menjadi permasalahan dalam penelitian yang akan dilakukan adalah mengidentifikasi profil penyerapan tenaga kerja sub sektor hotel dan restoran di Kota Denpasar periode 1997-2001.
1.2. Keaslian Penelitian
Dalam bagian keaslian penelitian ini disajikan beberapa penelitian terdahulu yang diambil dari jurnal maupun tesis. Berbagai penelitian tentang pariwisata maupun ketenagakerjaan telah banyak dilakukan diantaranya Hanham dan Banasick (2000) meneliti tentang perubahan tenaga kerja manufaktur di Jepang periode 1981-1995. Penelitian tersebut menggunakan alat analisis Shift Share dan menggunakan data kesempatan kerja di sektor manufaktur serta membagi masing-masing daerah ke dalam 4 tipe area lokal berdasarkan kepadatan populasi yaitu kepadatan tinggi, medium, rendah dan sangat rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perkembangan yang menurun pada wilayah-wilayah inti (core regions) yang dihubungkan dengan turunnya output dan produktivitas sedangkan di daerah pinggiran (peripheral regions) mengalami perkembangan.
Kuntari (2002) yang melakukan penelitian tentang kinerja sektor ekonomi dan tenaga kerja di Kabupaten Malang Jawa Timur tahun 1990 – 1999, dengan menggunakan alat analisis Shift Share, Location Quotient, produktivitas tenaga kerja dan elastisitas penyerapan tenaga kerja menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kinerja sektor ekonomi dan tenaga kerja antara periode stabil (1990–1995) dan periode mengalami krisis moneter dan demontrasi (1995–1999).
Sukardi (2001) melakukan penelitian tentang pariwisata sebagai sektor andalan di Kabupaten Bantul periode 1990-1998 dengan alat analisis (1) Klasssen Typologi untuk mengetahui laju dan tipologi pertumbuhan ekonomi (2) Location Quotient untuk mengidentifikasi sektor andalan dan (3) Shift Share dengan modifikasi Arcelus untuk mengetahui struktur dan dampak pariwisata terhadap ekonomi regional.
Malik (2002) yang meneliti tentang peran industri pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Donggala, lapangan usaha yang diteliti meliputi usaha hotel/penginapan, restoran/rumah makan, agen/biro perjalanan wisata dan toko souvenir/cinderamata. Alat analisis yang digunakan adalah Shift Share Klasik, Shift Share Modifikasi Estaban Marquillas dan Shift Share Modifikasi Arcelus dengan periode penelitian tahun 1996-2001.
Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian-penelitian yang disebutkan diatas terutama pada waktu, obyek dan lokasi penelitian yaitu periode 1997-2001, pada sub sektor hotel dan restoran dengan lokasi Kota Denpasar. Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian tentang profil penyerapan tenaga kerja sub sektor hotel dan restoran di Kota Denpasar belum pernah dilakukan.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulisan ini adalah
- Mengetahui komponen-komponen yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja pada sub sektor hotel dan restoran di Kota Denpasar
- Mengetahui produktivitas tenaga kerja pada sub sektor hotel dan restoran di Kota Denpasar
- Mengetahui Elastisitas tenaga kerja pada sub sektor hotel dan restoran di Kota Denpasar
- Mengetahui tingkat partisipasi tenaga kerja sub sektor hotel dan restoran di Kota Denpasar
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah
a. Bagi Pemerintah Kota Denpasar
1. Sebagai bahan masukan mengenai kebijakan pembinaan dan pengembangan sub sektor hotel dan restoran
2. Perhatian terhadap kebijakan ketenagakerjaan tentang hubungan kerjasama tripartit (pengusaha hotel dan restoran, Pemda dan pekerja)
b. Bagi Pihak Manajemen Hotel dan restoran
Dapat mengetahui gambaran kinerja aktivitasnya, serta pemantapan hubungan bipartit (pengusaha dan pekerja)
c. Bagi calon pekerja
Dapat mempersiapkan diri dengan memilih pendidikan yang tepat dan meningkatkan penguasaan keterampilan di bidang pariwisata umumnya dan perhotelan pada khususnya.
d. Sebagai acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang ingin meneliti sektor pariwisata
»
- Login to post comments


